Telkom AI Center Aceh Ajak Kampus Bangun Budaya Pemanfaatan AI yang Bertanggung Jawab


 Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuka banyak peluang baru bagi sektor pendidikan dan riset. Teknologi ini dapat membantu proses pembelajaran, mempercepat pengolahan informasi, hingga mendukung berbagai aktivitas penelitian.

Namun, pemanfaatan AI juga perlu diiringi pemahaman terhadap berbagai risiko, mulai dari keakuratan informasi, keamanan data, persoalan hak cipta, hingga tantangan dalam menjaga orisinalitas karya akademik.

Melihat kebutuhan tersebut, Telkom AI Center Aceh menggelar workshop bertajuk “Etika AI dalam Dunia Akademik” yang menghadirkan akademisi, mahasiswa, praktisi teknologi, serta berbagai peserta dari lingkungan pendidikan. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk memahami bagaimana AI dapat digunakan sebagai alat pendukung pembelajaran tanpa mengurangi peran manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan.

Workshop yang berlangsung pada 12 September tersebut menghadirkan dua pembicara, yakni Mulkan Fadhli, dosen UIN Ar-Raniry, dan Ikhwan Reza, Solution Architect Telkom Indonesia. Keduanya memberikan pandangan dari sisi akademik maupun teknologi terkait penggunaan AI yang aman dan bertanggung jawab.

Dalam sesi diskusi, Mulkan Fadhli menjelaskan bahwa AI seharusnya ditempatkan sebagai teknologi pendukung, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia. Menurutnya, mahasiswa maupun akademisi tetap memiliki tanggung jawab penuh terhadap proses dan hasil pekerjaan yang memanfaatkan teknologi AI.

“AI dapat membantu proses berpikir, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan manusia dalam menganalisis dan menghasilkan gagasan. Transparansi, pemeriksaan ulang, dan tanggung jawab tetap menjadi bagian penting,” ujar Mulkan.

Ia juga memperkenalkan konsep traffic light penggunaan AI sebagai panduan sederhana bagi sivitas akademika. Penggunaan AI untuk mencari ide, membuat kerangka tulisan, atau melakukan eksplorasi awal masuk dalam kategori yang diperbolehkan. Sementara penggunaan untuk penerjemahan maupun penyuntingan tetap membutuhkan pemeriksaan manusia. Adapun penggunaan AI yang menghasilkan karya sepenuhnya dan diklaim sebagai karya pribadi menjadi bagian yang perlu dihindari karena berpotensi melanggar integritas akademik.

Menurut Mulkan, institusi pendidikan juga perlu mulai membangun mekanisme transparansi penggunaan AI, termasuk pencatatan proses penggunaan teknologi tersebut dalam kegiatan penelitian maupun pembelajaran.

Dari sisi teknologi, Ikhwan Reza menjelaskan sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan ketika menggunakan AI. Salah satunya adalah fenomena AI hallucination, yaitu ketika sistem menghasilkan informasi yang tampak benar tetapi sebenarnya keliru atau tidak memiliki sumber yang valid.

“Jawaban dari AI tetap perlu diperiksa. Pengguna harus memastikan informasi yang diperoleh sesuai dengan sumber yang kredibel dan relevan dengan konteks yang dibutuhkan,” jelas Ikhwan.

Selain validitas informasi, ia menekankan pentingnya perlindungan data. Menurutnya, pengguna AI harus memahami batasan informasi yang dapat dimasukkan ke dalam sistem, terutama yang berkaitan dengan data pribadi, penelitian rahasia, maupun informasi internal institusi.

Dalam kesempatan tersebut, Ikhwan turut menjelaskan perkembangan konsep AI berdaulat yang dikembangkan Telkom untuk mendukung kebutuhan organisasi di Indonesia dengan memperhatikan aspek keamanan, tata kelola, dan kedaulatan data.

Diskusi workshop juga membahas berbagai peluang penerapan AI di perguruan tinggi, seperti integrasi AI dengan repositori kampus, pengembangan model AI berbasis kebutuhan lokal, hingga pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengelolaan pengetahuan.

Salah satu ide yang berkembang adalah penggunaan AI untuk membantu eksplorasi sejarah dan pengetahuan lokal Aceh melalui sistem pencarian dan pengolahan informasi yang tetap mengacu pada sumber terpercaya.

AI sebagai Pendukung Kemampuan Manusia

Business & Community Lead Telkom AI Center Aceh, Jurnalis JH, menyampaikan bahwa pembahasan AI di dunia pendidikan tidak hanya berkaitan dengan batasan penggunaan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi manusia.

“AI bukan pengganti manusia, melainkan mitra yang dapat membantu meningkatkan kemampuan manusia. Karena itu, literasi AI harus dibangun bersama dengan pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk budaya penggunaan AI yang sehat. Dosen dan institusi pendidikan perlu menyesuaikan metode pembelajaran agar mahasiswa tetap terbiasa melakukan analisis, menguji informasi, serta membangun pemikiran mandiri.

Menurutnya, AI justru dapat memperkuat proses belajar apabila digunakan untuk mendukung eksplorasi ide, memperdalam analisis, dan membantu mahasiswa mengembangkan argumentasi yang lebih kuat.

Membangun Ekosistem AI di Perguruan Tinggi

Telkom AI Center Aceh melihat pentingnya penyusunan pedoman penggunaan AI di lingkungan kampus. Pedoman tersebut dapat mencakup aturan mengenai transparansi penggunaan AI, perlindungan data, verifikasi informasi, hak cipta, serta standar integritas akademik.

Ke depan, Telkom AI Center Aceh membuka ruang kolaborasi bersama perguruan tinggi di Aceh untuk mengembangkan talenta AI, riset berbasis teknologi, serta solusi AI yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Melalui kegiatan ini, Telkom AI Center Aceh berupaya membangun ekosistem AI yang tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi, tetapi juga memperkuat literasi, inovasi, dan kesiapan sumber daya manusia.

Dengan pendekatan yang tepat, AI diharapkan mampu mendukung kemajuan pendidikan dan penelitian sekaligus tetap menempatkan manusia sebagai pengendali utama dalam setiap keputusan.

Tentang Telkom AI Connect
Telkom AI Connect merupakan bagian dari inisiatif Telkom AI Center of Excellence (AI CoE) yang diinisiasi oleh PT Telkom Indonesia. Program ini menyediakan pembelajaran, showcase inovasi, serta konsultasi bisnis untuk mempercepat adopsi AI dan transformasi digital. Telkom AI Connect hadir di sembilan kota di Indonesia untuk membangun kemampuan AI yang merata dan berkelanjutan.

Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuka banyak peluang baru bagi sektor pendidikan dan riset. Teknologi ini dapat membantu proses pembelajaran, mempercepat pengolahan informasi, hingga mendukung berbagai aktivitas penelitian.

Namun, pemanfaatan AI juga perlu diiringi pemahaman terhadap berbagai risiko, mulai dari keakuratan informasi, keamanan data, persoalan hak cipta, hingga tantangan dalam menjaga orisinalitas karya akademik.

Melihat kebutuhan tersebut, Telkom AI Center Aceh menggelar workshop bertajuk “Etika AI dalam Dunia Akademik” yang menghadirkan akademisi, mahasiswa, praktisi teknologi, serta berbagai peserta dari lingkungan pendidikan. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk memahami bagaimana AI dapat digunakan sebagai alat pendukung pembelajaran tanpa mengurangi peran manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan.

Workshop yang berlangsung pada 12 September tersebut menghadirkan dua pembicara, yakni Mulkan Fadhli, dosen UIN Ar-Raniry, dan Ikhwan Reza, Solution Architect Telkom Indonesia. Keduanya memberikan pandangan dari sisi akademik maupun teknologi terkait penggunaan AI yang aman dan bertanggung jawab.

Dalam sesi diskusi, Mulkan Fadhli menjelaskan bahwa AI seharusnya ditempatkan sebagai teknologi pendukung, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia. Menurutnya, mahasiswa maupun akademisi tetap memiliki tanggung jawab penuh terhadap proses dan hasil pekerjaan yang memanfaatkan teknologi AI.

“AI dapat membantu proses berpikir, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan manusia dalam menganalisis dan menghasilkan gagasan. Transparansi, pemeriksaan ulang, dan tanggung jawab tetap menjadi bagian penting,” ujar Mulkan.

Ia juga memperkenalkan konsep traffic light penggunaan AI sebagai panduan sederhana bagi sivitas akademika. Penggunaan AI untuk mencari ide, membuat kerangka tulisan, atau melakukan eksplorasi awal masuk dalam kategori yang diperbolehkan. Sementara penggunaan untuk penerjemahan maupun penyuntingan tetap membutuhkan pemeriksaan manusia. Adapun penggunaan AI yang menghasilkan karya sepenuhnya dan diklaim sebagai karya pribadi menjadi bagian yang perlu dihindari karena berpotensi melanggar integritas akademik.

Menurut Mulkan, institusi pendidikan juga perlu mulai membangun mekanisme transparansi penggunaan AI, termasuk pencatatan proses penggunaan teknologi tersebut dalam kegiatan penelitian maupun pembelajaran.

Dari sisi teknologi, Ikhwan Reza menjelaskan sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan ketika menggunakan AI. Salah satunya adalah fenomena AI hallucination, yaitu ketika sistem menghasilkan informasi yang tampak benar tetapi sebenarnya keliru atau tidak memiliki sumber yang valid.

“Jawaban dari AI tetap perlu diperiksa. Pengguna harus memastikan informasi yang diperoleh sesuai dengan sumber yang kredibel dan relevan dengan konteks yang dibutuhkan,” jelas Ikhwan.

Selain validitas informasi, ia menekankan pentingnya perlindungan data. Menurutnya, pengguna AI harus memahami batasan informasi yang dapat dimasukkan ke dalam sistem, terutama yang berkaitan dengan data pribadi, penelitian rahasia, maupun informasi internal institusi.

Dalam kesempatan tersebut, Ikhwan turut menjelaskan perkembangan konsep AI berdaulat yang dikembangkan Telkom untuk mendukung kebutuhan organisasi di Indonesia dengan memperhatikan aspek keamanan, tata kelola, dan kedaulatan data.

Diskusi workshop juga membahas berbagai peluang penerapan AI di perguruan tinggi, seperti integrasi AI dengan repositori kampus, pengembangan model AI berbasis kebutuhan lokal, hingga pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengelolaan pengetahuan.

Salah satu ide yang berkembang adalah penggunaan AI untuk membantu eksplorasi sejarah dan pengetahuan lokal Aceh melalui sistem pencarian dan pengolahan informasi yang tetap mengacu pada sumber terpercaya.

AI sebagai Pendukung Kemampuan Manusia

Business & Community Lead Telkom AI Center Aceh, Jurnalis JH, menyampaikan bahwa pembahasan AI di dunia pendidikan tidak hanya berkaitan dengan batasan penggunaan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi manusia.

“AI bukan pengganti manusia, melainkan mitra yang dapat membantu meningkatkan kemampuan manusia. Karena itu, literasi AI harus dibangun bersama dengan pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk budaya penggunaan AI yang sehat. Dosen dan institusi pendidikan perlu menyesuaikan metode pembelajaran agar mahasiswa tetap terbiasa melakukan analisis, menguji informasi, serta membangun pemikiran mandiri.

Menurutnya, AI justru dapat memperkuat proses belajar apabila digunakan untuk mendukung eksplorasi ide, memperdalam analisis, dan membantu mahasiswa mengembangkan argumentasi yang lebih kuat.

Membangun Ekosistem AI di Perguruan Tinggi

Telkom AI Center Aceh melihat pentingnya penyusunan pedoman penggunaan AI di lingkungan kampus. Pedoman tersebut dapat mencakup aturan mengenai transparansi penggunaan AI, perlindungan data, verifikasi informasi, hak cipta, serta standar integritas akademik.

Ke depan, Telkom AI Center Aceh membuka ruang kolaborasi bersama perguruan tinggi di Aceh untuk mengembangkan talenta AI, riset berbasis teknologi, serta solusi AI yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Melalui kegiatan ini, Telkom AI Center Aceh berupaya membangun ekosistem AI yang tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi, tetapi juga memperkuat literasi, inovasi, dan kesiapan sumber daya manusia.

Dengan pendekatan yang tepat, AI diharapkan mampu mendukung kemajuan pendidikan dan penelitian sekaligus tetap menempatkan manusia sebagai pengendali utama dalam setiap keputusan.

Tentang Telkom AI Connect
Telkom AI Connect merupakan bagian dari inisiatif Telkom AI Center of Excellence (AI CoE) yang diinisiasi oleh PT Telkom Indonesia. Program ini menyediakan pembelajaran, showcase inovasi, serta konsultasi bisnis untuk mempercepat adopsi AI dan transformasi digital. Telkom AI Connect hadir di sembilan kota di Indonesia untuk membangun kemampuan AI yang merata dan berkelanjutan.

Posting Komentar untuk "Telkom AI Center Aceh Ajak Kampus Bangun Budaya Pemanfaatan AI yang Bertanggung Jawab"