5 Cara Bisnis Dalam Menghadapi Era Disrupsi

5 Cara Bisnis Dalam Menghadapi Era Disrupsi
5 Cara Bisnis Dalam Menghadapi Era Disrupsi

Apa Itu BRIAPI?

BRIAPI, singkatan dari BRI Application Programming Interface. BRIAPI merupakan produk perseroan yang memungkinkan pihak ketiga untuk menggunakan fitur atau fungsi layanan finansial dari Bank BRI dalam platform milik mereka dengan cepat dan aman. Penerapan BRIAPI dengan ISO 27001 menjadikan Bank BRI sebagai bank dengan system open API pertama di Indonesia yang bersertifikasi ISO 27001. 

Sertifikasi ISO 27001 membuktikan BRIAPI memiliki kejelasan flow operasional (clarity), pengajuan dan peran dari bisnis BRIAPI menjadi lebih cepat (agility), data yang tersimpan di BRIAPI terjamin aman dan tidak akan bocor ke pihak lain (safety), meningkatkan kepatuhan akan keamanan sistem informasi terhadap aturan yang berlaku (compliance), menyiapkan penanganan atas risiko yang dapat terjadi pada sistem BRIAPI (risk management), serta menekan potensi timbulnya fraud yang dapat membahayakan reputasi dari BRI

Fenomena Disrupsi

Akhir-akhir ini mungkin para pengusaha sedang dihebohkan dengan situasi disrupsi teknologi pada perbankan yang sedang melanda dunia usaha. Bagi sebagian kalangan hal ini dianggap sebagai suatu peluang, tapi bagi kalangan yang lain ada yang menganggap ini menjadi ancaman dan bahkan menjadi awal dari kebangkrutan yang tidak diinginkan. Sebegitu seramkan fenomena disrupsi ini? ya sudah jelas seram lah, karena disrupsi ini dapat membuat raksasa yang sedang asik main dapat terjungkir bahkan koprol, hehehe. Oleh karena itu saya ingin berbagi pengetahuan mengenai cara menghadapi era disrupsi ini.

Ok, sebelum saya bahas lebih lanjut, mungkin saya akan jelaskan terlebih dahulu apa itu yang disebut dengan disrupsi, karena mungkin tidak semua orang baik dikalangan praktisi maupun akademisi sudah mengetahui akan istilah ini atau bahkan banyak juga yang masih gagal paham, hehe. 

Apa Itu Disrupsi

Disrupsi teknologi adalah Kata disrupsi atau dalam bahasa inggris disebut dengan disruption pertama kali saya dengar dari pakar manajemen dan bisnis yaitu Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Disruption.

Dalam dunia bisnis, tak terkecuali bisnis pariwisata, kata disrupsi adalah fenomena yang terjadi yang diakibatkan oleh perubahan model bisnis lama kedalam model bisnis baru yang dapat merubah tatanan bisnis mulai dari upstream sampai downstream-nya, mulai dari proses bisnis internal sampai eksternalitasnya. Efek disrupsi ini menjadikan yang dulunya market leader dalam model bisnis yang lama, menjadi tergerus dengan pemain baru yang menggunakan model bisnis baru yang tentunya lebih efektif dan efisien. Kalau diilustrasikan, disrupsi ini seperti tornado yang menyambar pohon besar yang sedang berdiri kokoh.

Mencermati transformasi digital maka disrupsi perbankan terjadi besar-besaran. Dulu masing-masing bank punya produk andalan untuk saling bersaing, namun kini tidak demikian, karena terjadi evolusi dalam dunia perbankan. Kemajuan teknologi membantu bank untuk lebih efisien dan aman, dan layanan perbankan sebagian mulai beralih dari konvensional banking menjadi internet banking, dengan munculnya Fintech di negara kita.

Kapan dan mengapa evolusi perbankan terjadi?

Revolusi perbankan di negeri ini diawali oleh Bank BTPN dengan mengeluarkan aplikasi Jenius pada bulan Agustus 2016, yang menawarkan layanan perbankan lewat smartphone yang dikenal dengan digital banking. Lewat layanan tersebut seseorang tidak perlu ke bank untuk menyetorkan dananya atau mentransfer dananya, cukup lewat handphone semua transaksi pembayaran dapat dilakukan dengan mengandalkan jaringan internet. Hal ini dilakukan karena perkembangan zaman membuktikan masyarakat semakin banyak menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari, demikian juga di Indonesia.

Berdasarkan data Digital 2020 dari We are Social dan Hootsuite, total pengakses internet di Indonesia mencapai 174 juta orang, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi pengguna internet terbesar di dunia.

Neobank versus Digital Banking.

Akhir-akhir ini dunia perbankan dihebohkan dengan hadirnya neobank, ini bukan sebuah jenis bank. Berdasarkan definisi maka neobank adalah bank yang kemudian memberikan layanan secara fully internet. Jadi neobank adalah bank digital yang tidak punya cabang fisik satupun juga. Keberadaan neobank ini 100% online. Lalu apa bedanya neobank dengan digital banking?

Digital bank itu sesungguhnya adalah digital extension atau perpanjangan digital dari sebuah bank tradisional. Misalnya Jenius adalah perpanjangan/ digital extension bank BTPN, Digibank adalah digital extension dari DBS Bank.

Sementara neobank merupakan bank digital yang murni berdiri sendiri layaknya perusahaan teknologi yang melakukan fungsi perbankan. Neobank di Indonesia saat ini adalah Bank Neo Commerce dan Bank Jago. Karena tidak punya kantor cabang membuat neobank beroperasi sangat efisien, bonus simpanan yang tinggi dan mengurangi semua bentuk biaya transaksi, dan sifatnya customer sentric jadi dibentuk sesuai kebutuhan customer jadi bukan hanya cepat layanannya tetapi juga sangat personal. Sedangkan kelemahannya belum memiliki fungsi layanan perbankan secara penuh, namun fitur-fitur yang membuat transaksi berjalan cepat membuat neobank lebih unggul. (Dr Indrawan Nugroho, CEO dan Co-Founder CIAS, Serangan Maut Neobanks. Inikah ENDGAME Perbankan?)

Ekosistem Digital

Meskipun demikian, tak ada jaminan semua bank digital yang muncul hari ini bisa bertahan dan mencatatkan keuntungan. Agar bisa unggul dan bertahan, maka bank digital harus dilengkapi dengan ekosistem digital atau memilih untuk membidik ekosistem digital yang sudah ada. Seperti yang dilakukan oleh bank-bank besar.

Dengan memiliki ekosistem digital, para pemilik bank berharap, bank bisa mengakuisisi nasabah baru hingga menawarkan fitur yang mencakup berbagai produk bank mulai dari simpanan, layanan transaksi, hingga kredit. Salah satu bank besar yang telah melakukannya adalah BCA dengan BCA Digital misalnya, telah menyasar pengguna e-commerce Blibli. Pengguna Blibli bisa membuka rekening BCA Digital di dalam platform. Mereka sama-sama dimiliki oleh Grup Djarum.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan tren ini akan terus berlanjut seiring dengan disrupsi teknologi dan bisnis. Dia menilai model bisnis yang mengejar ekosistem digital akan berdampak besar bagi pertumbuhan bisnis bank digital.

“Bank digital tidak hanya mengubah model bisnis menjadi digital tapi perlu membangun ekosistem digital dengan platform lain dan marketplace sehingga akan lebih optimal. Juga tantangan agak berat karena melawan bank besar yang juga membangun ekosistem digital melalui platform mobile banking dan internet banking mereka,” ujar Amin (Kontan 12/10/2021).

Ia menilai kerja sama antar bank digital dan fintech peer to peer (P2P) lending dalam menyalurkan kredit sah-sah saja. “Fintech dan bank digital memiliki segmen tersendiri. Khususnya untuk bank digital, mereka bisa menyasar niche market yang tidak disasar oleh bank tradisional. Terlebih masih ada 60% penduduk yang belum bisa dijangkau oleh bank. Ini pasar yang besar untuk dijangkau dengan memanfaatkan kemajuan teknologi,” kata dia.

Pengembangan Bank Digital

Direktur Utama Bank Digital BCA Lanny Boedianti mengatakan untuk menjaring nasabah, pihaknya fokus mengembangkan pelayanan, fitur, dan produk. Hingga pertengahan November 2021, BCA Digital telah mencatatkan lebih dari 300.000 nasabah.

“Blu (Bank Digital BCA) akan dikembangkan menjadi platform all-in-one yang dapat menjawab berbagai kebutuhan segmen nasabah modern. Kami juga mengembangkan skala ekosistem digital di Indonesia dengan menggandeng berkolaborasi dengan partner multi-industri yang memiliki visi yang sama dan sudah ahli di bidangnya,” jelas Lanny( Kontan, 11 Desember 2021).

Hingga saat ini, BCA Digital sudah memiliki mitra eksklusif di bidang e-commerce yakni Blibli. Selain itu, perseroan juga sudah menjalin kerjasama eksklusif dengan Telkom. Kemitraan dengan keduanya merupakan strategi yang memperkuat komitmen BCA Digital untuk menghadirkan nilai tambah kepada pelanggan.

Lain halnya dengan Bank Neo Commerce dikabarkan mengandalkan Akulaku sebagai pemegang saham. Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan menyatakan akan melakukan terus kerja sama dengan group besar Alibaba sebagai investor Akulaku. Karena banyak perusahaan di Indonesia yang diinvestasi oleh Alibaba Group. Beredar informasi bahwa Bank Neo Commerce berencana akan melakukan sinergis dengan tujuan memberikan layanan terbaik bagi nasabah. Tentu saja dengan sinergi dan kolaborasi Bank Neo Commerce bisa meminimalisir biaya-biaya, jadi bukan kompetisi.

Tjandra menambahkan bahwa, Bank Neo Commerce telah bekerja sama dengan Sunline, Tencent, Alicloud, Arrash, dan Huawei dalam mengembangkan infrastruktur digital bank. Dalam menjalankan model bisnis, Bank Neo terus mengembangkan layanan kebutuhan sehari-hari pengguna seperti top up, utility, makanan dan minuman, serta transportasi. Juga layanan lewat QR payment yang direncanakan rilis pada tahun depan. (Kontan, 11 Desember 2021)

Yang cukup menarik adalah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) dari sebuah bank pembangunan daerah kini melakukan evolusi menjadi bank digital. Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renal mengatakan: “Fenomena bank digital merupakan masa depan dari industri keuangan, sehingga kita perlu melakukan inovasi dan bertransformasi agar bisa bersaing di industri perbankan.”

Dia mengimplementasikan program budaya perusahaan tahun 2022 BJB Trust Crost Collaboration, karena prinsipnya di era digital, kolaborasi diyakini menjadi satu hal yang harus dilakukan dalam mencapai visi dan misi perusahaan. Perbedaan lokasi, jarak, dan waktu bukan menjadi penghambat aktivitas untuk berkolaborasi dan Cross Collaboration adalah momentumnya. Let’s make BJB Better, Through Better Engangement and Productivity,” kata Yuddy.

Ia mengatakan, bank BJB di tahun 2021 telah melakukan berbagai inovasi dan pengembangan digitalisasi. Adapun hal tersebut berdampak pada pendapatan fee-based income yang naik signifikan. Tak terkecuali dari kanal-kanal atau layanan digital yang semakin digandrungi. Hal ini, sambung Yuddy, tidak terlepas dari semakin luasnya ekosistem digital bank BJB yang tumbuh sepanjang tahun 2021.

Pengembangan juga dilakukan terhadap pemberian fasilitas kredit berbasis digital melalui aplikasi Loan on Boarding, seperti aplikasi BJB Laku untuk segmen UMKM dan Kredit Mesra dan Kredit Usaha Rakyat (KUR), BJB Koin untuk pembiayaan segmen konsumer ASN, serta pengembangan aplikasi pada segmen lainnya. Hal tersebut mendorong percepatan pertumbuhan ekspansi bisnis bank, ke depannya seluruh aplikasi ini akan menjadi satu kesatuan dalam suatu Super Apps untuk memenuhi seluruh kebutuhan nasabah. (CNBC, 18/1/2022)

Hal Penting Dalam Disrupsi

Rhenald Kasali dalam Kompas.Com mengungkapkan bahwa terdapat 5 (lima) hal penting dalam disrupsi yaitu:

Disrupsi berakibat terhadap penghematan banyak biaya melalui proses bisnis yang menjadi lebih simpel.

Disrupsi membuat kualitas apapun yang dihasilkannya lebih baik ketimbang yang sebelumnya. Kalau lebih buruk, jelas itu bukan disrupsi. Lagipula siapa yang mau memakai produk/jasa yang kualitasnya lebih buruk?

Disrupsi berpotensi menciptakan pasar baru, atau membuat mereka yang selama ini ter-eksklusi menjadi ter-inklusi. Membuat pasar yang selama ini tertutup menjadi terbuka.

Produk/jasa hasil disrupsi ini harus lebih mudah diakses atau dijangkau oleh para penggunanya. Seperti juga layanan ojek atau taksi online, atau layanan perbankan dan termasuk financial technology, semua kini tersedia di dalam genggaman, dalam smartphone

Disrupsi membuat segala sesuatu kini menjadi serba smart. Lebih pintar, lebih menghemat waktu dan lebih akurat.

Dalam ilmu strategic management, sebenarnya disrupsi adalah hal yang biasa dalam dunia bisnis. Pada dasarnya disrupsi adalah perubahan yang terjadi pada lingkungan bisnis yang kodratnya memang selalu berubah dan dinamis. Dari zaman dulu juga disrupsi itu sudah terjadi, dan kejadiannya biasanya dikarenakan oleh terciptanya teknologi yang membuat proses bisnis lebih efektif dan efisien dibanding dengan proses sebelumnya.

Selanjutnya bagaimana fenomena tersebut dalam dunia pariwisata? Saya pikir sama saja, kita lihat saja dampak dari berjamurnya OTA (online travel agent) dan agregator transportasi online yang memberikan efek disrupsi terhadap agen perjalanan dan jasa transportasi konvensional yang sedang dipuncak product life cycle dibuat kalang kabut bahkan dapat terdorong ke posisi decline.

Cara Menghadapi Era Disrupsi

Lantas bagaimana cara menghadapi era disrupsi yang akan selalu terjadi dalam dunia bisnis ini? Menurut saya kuncinya adalah adaptasi, karena disrupsi itu merupakan suatu perubahan dalam lingkungan bisnis, dan tentunya adaptasilah yang dapat menjadi obatnya.  Berikut adalah 7 (tujuh) cara yang menurut saya dapat dilakukan oleh bisnis dalam menghadapi era disrupsi ini agar bisnis tidak kehilangan pelanggannya atau bahkan mati.

1. Trend Watching

Cara menghadapi era disrupsi yang pertama adalah melakukan Trend watching yaitu kegiatan dalam memantau perubahan trend dalam lingkungan bisnis. Dengan selalu memantau lingkungan, maka bisnis akan selalu mengetahui perubahan-perubahan yang sedang dan akan terjadi sehingga gejala-gejala timbulnya disrupsi akan terdeteksi secara dini. Komponen-komponen yang harus dipantau yaitu trend teknologi, ekonomi, budaya, politik, dan lingkungan alam. Informasi dari trend watching dapat digunakan untuk melakukan adaptasi dan antisipasi, sehingga efek dari disrupsi dapat diminimalisir, atau bahkan bisa jadi agent of disruption, yaitu pelaku bisnis yang menjadi pionir dalam disrupsi.

2. Research

Cara menghadapi era disrupsi selanjutnya adalah melakukan riset. Agar trend watching yang dilakukan hasilnya dapat lebih meyakinkan, maka harus dilakukan dengan pendekatan riset. Karena dengan riset informasi yang didapat dapat dipertanggungjawabkan mengenai kesahihan dan keabsahannya, karena dilakukan secara ilmiah. Oleh karena itu bisnis di era ini harus memiliki fungsi riset, yang biasa dinamakan R&D (research & development).

3. Risk Management

Cara menghadapi era disrupsi yang ketiga yaitu selalu melakukan pengelolaan terhadap resiko. Lingkungan yang terdisrupsi pada dasarnya akan menjadi pemicu dari resiko bisnis. Oleh karena itu, bisnis harus selalu dapat mengelola disrupsi sebagai suatu peril dalam resiko, dan bisa dikatakan bahwa disrupsi itu harus dikelola, dan menurut saya risk management disini dapat difokuskan kepada disruption management yang isinya bagaimana disrupsi diidentifikasi, dianalisis dan dievaluasi, sehingga bisnis dapat memiliki ruang dan waktu untuk mengantisipasi gejala disrupsi yang akan terjadi.

4. Inovation

Cara menghadapi era disrupsi yang ke-empat adalah melakukan inovasi, yaitu membuat terobosan-terobosan baru atau penyesuaian-penyesuaian pada bisnis yang lama agar lebih sesuai dengan era dimana masa disrupsi terjadi. Inovasi dapat dilakukan jika peristiwa tersebut sudah terlanjur terjadi dan dapat berhasil pada bisnis yang mau melakukan perubahan. Contohnya adalah bisnis yang murni offline, membuat inovasi dengan meluncurkan versi online.

5. Switching

Cara menghadapi era disrupsi yang ke-lima adalah switching atau memutar haluan bisnis. Cara ini dapat dilakukan Jika bisnis yang ada tidak lagi bisa diotak-atik atau dimodifikasi, maka solusinya adalah harus berani putar haluan atau mematikan produk yang sudah dimiliki. Contohnya Telkom yang selalu berani untuk mematikan atau mengkanibalisasi produknya sendiri seperti telepon kabel yang diganti dengan nir-kabel dll.

Itulah 5 cara yang dapat dilakukan oleh bisnis, termasuk bisnis pariwisata agar tidak lantas mati ditelan oleh fenomena disrupsi yang akan selalu terjadi baik pada masa lalu, kini dan yang akan datang. Selamat menghadapi era disrupsi dan Wallahu A’lam Bishawab karena hanya Allah lah yang maha mengetahui termasuk kebenaran menganai ilmu ini.

Kesimpulan

Bank digital akan berhasil jika memiliki ekosistem digital dan keberhasilan tersebut ditunjang oleh konsistensi dalam menggarap ekosistem digital yang ada, dengan melakukan pengembangan terhadap aplikasi sesuai kebutuhan nasabah, bukan mengandalkan valuasi yang tinggi. Ekosistem yang dikembangkan harus memadai karena akan memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi nasabahnya.

Mais Nurdin
Mais Nurdin Mais Nurdin adalah seorang SEO Specialis dan memiliki keahlian menulis di bidang SEO, SEM, Bisnis Online, Adsense, Blogger, Wordpres, Teknologi, Wisata, Resep Masakan, Sosial Media, Pendidkan dan Internet Marketing dengan Tagline “Smart Blogging”

Posting Komentar untuk "5 Cara Bisnis Dalam Menghadapi Era Disrupsi"