Indonesia Turun ke Peringkat 14 Adopsi Kripto Global, Basis Pengguna Terus Bertambah
Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan basis pengguna aset kripto meski posisi negara dalam peta adopsi kripto global mengalami penurunan. Berdasarkan 2026 Global Crypto Adoption Index dari Chainalysis, Indonesia berada di peringkat ke-14 dari 117 negara, turun dari posisi ketujuh pada tahun sebelumnya.
Penurunan peringkat tersebut terjadi ketika jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia justru terus meningkat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terdapat 22,93 juta akun konsumen pada Juli 2026, naik 1,03 persen dari 22,69 juta akun pada Juni.
Jika dibandingkan dengan Juli 2025, ketika jumlah akun masih sekitar 16,50 juta, basis pengguna tersebut telah bertambah sekitar 39 persen dalam satu tahun.
Perbedaan antara pertumbuhan jumlah pengguna dan posisi indeks global tersebut menunjukkan bahwa perkembangan adopsi kripto tidak hanya ditentukan oleh jumlah akun. Aktivitas transaksi, arus dana, saldo aset, hingga transaksi lintas negara turut menjadi bagian dari pengukuran.
Dalam indeks 2026, Indonesia berada di peringkat ke-11 untuk total aliran transaksi, peringkat ke-12 untuk saldo aset kripto, posisi ke-13 untuk aktivitas peer-to-peer (P2P), dan peringkat ke-10 untuk transaksi lintas negara.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan penurunan posisi Indonesia tidak dapat langsung diartikan sebagai berkurangnya ketertarikan masyarakat terhadap aset digital.
“Peringkat global penting sebagai benchmark, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran perkembangan industri. Basis pengguna domestik masih bertumbuh. Tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan aktivitas pengguna, likuiditas, serta utilitas produk dalam ekosistem,” ujar Yudho.
Ia menambahkan bahwa perbandingan peringkat antarperiode juga perlu mempertimbangkan perubahan metode pengukuran. Chainalysis menggunakan metodologi baru pada 2026 yang mencakup empat indikator utama, yakni aliran dana melalui layanan kripto, aktivitas P2P domestik, aliran transaksi lintas negara, dan saldo aset on-chain. Periode pengukuran berlangsung dari Juli 2025 hingga Juni 2026.
Pertumbuhan Akun Belum Diikuti Transaksi
Pertumbuhan basis pengguna Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam nilai transaksi. Pada Juli 2026, transaksi aset kripto domestik tercatat sebesar Rp20,52 triliun, turun 28,2 persen dibandingkan Rp28,58 triliun pada Juni.
Penurunan lebih terlihat jika dibandingkan secara tahunan. Nilai transaksi Juli 2025 yang mencapai Rp52,46 triliun berarti transaksi Juli 2026 mengalami penurunan sekitar 60,9 persen.
Secara kumulatif, transaksi Januari hingga Juli 2026 mencapai sekitar Rp171,12 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp276,45 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Yudho, kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan pola partisipasi pengguna.
“Sekarang semakin banyak masyarakat yang memiliki akses ke aset kripto, tetapi pertumbuhan jumlah pengguna belum otomatis meningkatkan nominal maupun frekuensi transaksi. Industri perlu melihat bagaimana pengguna baru dapat berkembang menjadi pengguna yang aktif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Faktor ekonomi global, volatilitas pasar, serta perilaku investor yang semakin selektif turut memengaruhi aktivitas transaksi. Pengguna cenderung lebih berhati-hati dalam menentukan waktu masuk pasar, besaran dana yang dialokasikan, dan jenis produk yang digunakan.
Aktivitas Global Relatif Bertahan
Perkembangan Indonesia juga perlu dilihat dalam konteks pasar global. Chainalysis mencatat kapitalisasi pasar kripto dunia sempat menyusut sekitar 50 persen atau setara dengan US$2,1 triliun selama periode pengukuran.
Namun, aktivitas ekonomi on-chain global hanya turun sekitar 1,6 persen, dari US$9,5 triliun menjadi US$9,4 triliun.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas blockchain tidak sepenuhnya bergantung pada pergerakan harga aset. Penggunaan stablecoin, derivatif, tokenisasi aset, layanan institusional, dan berbagai aktivitas blockchain lainnya turut membentuk ekosistem yang semakin beragam.
“Ekosistem kripto global semakin luas. Aktivitasnya tidak lagi hanya berpusat pada transaksi Bitcoin atau altcoin. Perkembangan stablecoin, tokenisasi, derivatif, dan layanan institusi menunjukkan adanya perluasan utilitas aset digital,” kata Yudho.
Infrastruktur Domestik Semakin Berkembang
Di tengah perubahan pola aktivitas pengguna, infrastruktur industri aset digital Indonesia juga terus bertumbuh. Hingga Juli 2026, ekosistem domestik mencakup dua bursa aset keuangan digital, dua lembaga kliring, dua pengelola tempat penyimpanan, serta 26 pedagang aset keuangan digital berizin.
Ruang pengembangan produk juga semakin luas melalui berbagai model bisnis yang telah masuk dalam regulatory sandbox OJK. Beberapa di antaranya mencakup tokenisasi emas, tokenisasi surat berharga, tokenisasi manfaat kepemilikan properti, stablecoin Rupiah, kustodian aset digital non-perdagangan, serta manajer dana kripto.
Menurut Yudho, perkembangan tersebut dapat menjadi fondasi untuk memperdalam pasar aset digital nasional.
“Jika tahap awal industri berfokus pada memperluas awareness dan akses, tahap berikutnya adalah memperdalam kualitas pasar melalui variasi produk, likuiditas, edukasi, dan use case yang relevan,” ujarnya.
Indonesia juga masih mencatat posisi yang cukup tinggi dalam aktivitas transaksi kripto lintas negara, yakni peringkat ke-10 dalam indeks Chainalysis 2026. Kondisi tersebut menunjukkan keterhubungan pasar domestik dengan ekosistem aset digital internasional.
Dengan hampir 23 juta akun konsumen, infrastruktur regulasi yang semakin lengkap, serta pasar digital yang besar, industri aset digital Indonesia memiliki basis untuk terus berkembang. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan kualitas partisipasi pengguna dan memperkuat aktivitas dalam ekosistem yang resmi dan berizin.
“Ukuran keberhasilan industri ke depan tidak cukup hanya melihat jumlah akun baru. Pengguna aktif, kedalaman likuiditas, keberagaman produk, serta kemampuan mempertahankan aktivitas transaksi juga perlu menjadi perhatian,” pungkas Yudho.
.jpg)
Posting Komentar untuk "Indonesia Turun ke Peringkat 14 Adopsi Kripto Global, Basis Pengguna Terus Bertambah"
Posting Komentar